Kategori , , , ,

Awas: Manis yang Berbahaya

Hampir semua orang suka rasa manis, bedanya ada yang suka sedikit manis dan ada yang suka sangat manis. Rasa manis dalam makanan yang sama pun bisa dirasakan berbeda oleh masing-masing orang. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor genetik, kepekaan indera perasa, status kesehatan dan juga usia.

Kalau bicara masalah manis, tentu tidak akan terlepas dari yang namanya gula. Gula memang merupakan bahan utama yang umum dipakai untuk memaniskan makanan. Sayangnya, kelebihan gula pun kurang baik akibatnya. Belum lagi bagi mereka yang menderita penyakit tertentu seperti kencing manis misalnya.

Di luar gula meja (sukrosa) yang kita pakai sehari-hari, sesungguhnya masih banyak bahan yang dapat dipakai sebagai pemanis, misalnya madu dan gula jagung. Ada juga pemanis buatan yang tidak berkalori seperti sakarin dan aspartam (http://www.infosehat.com).

Saat ini penggunaan pemanis buatan sudah cukup luas mulai yang digunakan sebagai pengganti gula tanpa kalori sampai yang digunakan sebagai pemanis yang memiliki rasa manis ribuan kali lipat manisnya gula pada industri-industri minuman.

Soerjodibroto, 2002 dalam hayun, 2004, menyebutkan bahwa seiring dengan meningkatnya pertumbuhan industri makanan dan minuman di Indonesia, telah terjadi peningkatan produksi minuman ringan yang beredar di masyarakat. Pada minuman ringan sering ditambahkan kofeina, pengawet dan pemanis buatan yang kadarnya perlu diperhatikan, karena apabila konsumsinya berlebihan dapat membahayakan kesehatan.

  • Contoh Pemanis Buatan
Pemanis buatan yang sering digunakan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri adalah sakarin, aspartam, sorbitol, acesulfame potassium dan beberapa pemanis buatan yang lainnya. Berikut akan dibahas sedikit tentang beberapa pemanis buatan tersebut:

• Aspartam
Aspartam merupakan salah satu pemanis non gula yang cukup sering digunakan dalam industri makanan ataupun minuman bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Aspartam adalah bahan pemanis rendah kalori pengganti gula biasa (sukrosa) yang ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1965 oleh James Schlatter, peneliti yang pada waktu itu bekerja di G.D.Searle and Co. dan sedang berusaha mencari obat baru untuk luka dalam. Ketika ia menjilat jarinya untuk memudahkannya mengambil selembar kertas, Schlatter menyadari betapa manisnya rasa senyawa sintesis yang telah ia buat. Senyawa inilah yang kemudian diberi nama aspartam.

Aspartam merupakan pemanis sintetis non-karbohidrat, aspartyl-phenylalanine-1-methyl ester, atau merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanin. Aspartam dijual dengan nama dagang komersial seperti Equal, Nutrasweet dan Canderel dan telah digunakan di hampir 6.000 produk makanan dan minuman di seluruh dunia. Terutama digunakan di minuman soda dan permen. Belakangan aspartam mendapat penyelidikan lebih lanjut mengenai kemungkinan aspartam menyebabkan banyak efek negatif. Dan akhirnya, pangsa pasarnya mulai berkurang direbut oleh pemanis lain yaitu sukralosa (http://www.wikipedia.com)

Untuk mendapatkan aspartam cukup mudah karena produk ini dijual bebas di toko-toko sembako. Penggunaan aspartam ini biasanya adalah untuk diet bagi penderita diabetes, karena meskipun rasanya manis zat ini bersifat rendah kalori sehingga dapat sedikit mengurangi penyakit diabetes atau kencing manis.
Struktur kimiawi aspartam (http://www.wikipedia.com)

• Sakarin
Sakarin adalah pemanis buatan yang ditemukan pertama kali pada tahun 1879. Pemanis buatan yang kurang populer ini tiba-tiba saja menjadi bahan pokok penduduk sipil ketika semua gula yang ada dikirim ke medan perang untuk konsumsi para tentara pada Perang Dunia I.

Sakarin cukup familiar digunakan dalam rumah tangga, rasa manis yang sangat pekat pada sakarin ini dapat menghemat penggunaan gula sehingga banyak orang yang menggunakannya sebagai pemanis makanan/minuman sehari-hari. Penggunaan sakarin dianggap cukup aman asalkan tidak terlalu banyak. Sebagaimana aspartan sakarin juga merupakan pemanis dengan kandungan kalori yang rendah sehingga cocok digunakan bagi penderita penyakit diabetes maupun orang yang sedang menjalani program diet.

Beberapa laporan tentang bahaya yang ditimbulakan oleh penggunaan sakarin antara lain bersifat karsinogenik, hanya saja dugaan tersebut ditepis oleh B-POM asalkan penggunaannya tidak terlalu berlebihan.

  • Penggunaan Pemanis Buatan
Kiprah pemanis buatan telah banyak sekali di dunia pangan, mulai daeri sakarin yang digunakan oleh para ibu-ibu rumah tangga saat terjadi perang (karena kekurangan gula) sampai aspartan yang digunakan untuk pemanis makanan tentara perang teluk. Masyarakat telah mengenal cukup banyak macam-macam pemanis buatan dari berbagai merek dan bentuk dengan berbagai macam kadar kemanisan yang ditawarkan serta harga yang diminta.

Harga merupakan aspek yang paling dominan berpengaruh dalam penggunaan pemanis buatan, karena ketika dibandingkan dengan gula rasa manis yang dihasilkan sengatlah berbeda jauh, bahkan bisa ratusan kali lipat rasa manis gula. Sehingga hanya dengan penggunaan sedikit saja pemanis buatan ini sudah cukup untuk memberikan rasa manis pada literan bahkan bergalon-galon minuman otomatis kondisi ini dapat menghemat pengeluaran produsen minuman untuk biaya pembelian gula.

Penggunaan pemanis buatan ini misalnya aspartam banyak kita temukan pada produk-produk jajanan sehari-hari antara lain:
1. Okky Jelly Drink
2. Okky Bolo Drink
3. Inaco Jelly
4. Happydent White
5. Alloy Jelly
6. Donna Jelly
7. Lotte Juicy Fresh
8. Hore
9. Jas Jus
10. Disney SegarSari
11. Nutrisari Hangat
12. Segar Dingin
13. Frutilo Magic,
(http://indoforum.com)

Kebanyakan produk-produk yang menggunakan pemanis buatan ini adalah jajanan yang disukai anak-anak kecil, padahal kalau kita tinjau dari sehi kesehatan, tubuh anak kecil masih sangat rentan sehingga sangat berbahaya jika mengkonsumsi pemanis-pemanis buatan ini terlalu banyak apalagi kalau dikonsumsi sehari-hari.

Penggunaan produk-produk pemanis buatan ini sejatinya tidak berbahaya jika dikonsumsi sesuai dengan kadar yang benar dan tidak berlebihan. Bahkan salah satu keunggulan bahan pemanis ini adalah sifatnya yang rendah kalori sehingga aman bagi penderita diabetes. Bagi penderita diabetes ataupun obesitas dianjurkan untuk menggunakan sakarin karena rendah kalori, hanya saja tetap pada dosis yang tepat dan tidak berrlebihan.

  • Fungsi dan Bahaya Pemanis Buatan
Sesuai dengan namanya, fungsi dari pemanis buatan adalah sebagai bahan tambahan pada makanan/minuman guna meberikan rasa manis. Pemanis buatan telah banyak sekali digunakan baik secara lokal di rumah-rumah maupun secara nasional pada suatu negara. Sakarin misalnya pernah digunakan di amerika secara besar-besaran menyusul paceklik gula karena gula dibawa ke medan perang, sedangkan aspartam pernah menjadi pemanis makanan/minuman utama bagi tentara-tentara dalam perang teluk (http://www.infosehat.com).

Sejarah panjang pemanis buatan tidak berhenti disitu saja, sampai sekarang beberapa pemanis buatan tetap digunakan terutama pada industri-industri minuman.

Seperti telah sedikit disinggung pada pembahasan diatas, funsi lain dari pemanis buatan ini adalah sebagai pengganti gula bagi para penderita diabetes maupun bagi orang yang sedang melakukan diet. Hal ini dikarenakan bahan-bahan ini rendah kalori sehingga tetap dapat menjaga kadar kalori dalam tubuh namun makan atau minuman tetap bisa terasa manis.

Namun disamping beberqapa fungsi tersebut, beberapa pemanis buatan ternyata diduga memiliki efek buruk bagi tubuh, telah banyak penelitian yang dilakukan terkait dugaan tersebut, dan sampai sekarang perdebatan masih tetap terjadi tentang bahaya zat pemanis buatan ini.

Aspartam misalnya, di dalam tubuh aspartam kembali diubah menjadi 3 komposisi dasarnya: phenylalanine, aspartate dan methanol. Inilah yang menyulut perdebatan sengit seputar aspartam yang sampai sekarang pun masih belum benar-benar terselesaikan.

Phenylalanine adalah asam amino yang tidak dapat dicerna oleh penderita phenylketonuria (PKU). Penderita PKU tidak mempunyai enzim yang dapat mencerna phenylalanine menjadi zat transmisi saraf. Akibatnya phenylalanine terakumulasi dalam jaringan saraf dan dapat menyebabkan cacat mental.

Efek buruk aspartam terhadap penderita PKU yang sudah jelas ini masih dapat diatasi dengan label tambahan yang memperingatkan penderita PKU untuk tidak mengkonsumsi produk tersebut. Yang jadi masalah ialah efek aspartam yang masih belum jelas: phenylalanine dilaporkan dapat menyebabkan kejang-kejang dan dan didegradasi menjadi diketopiperazine (DKP), zat penyebab tumor; methanol yang terakumulasi dalam tubuh dapat merusak saraf mata dan menyebabkan kebutaan. Selain itu methanol juga diubah menjadi formaldehida (zat pengawet mayat) dan asam format (zat racun semut rangrang). Aspartate juga dilaporkan telah menyebabkan otak tikus-tikus percobaan berlubang.

Di Amerika, di mana kegemukan sudah menjadi masalah nasional dan bukan hanya problem pribadi, laporan-laporan miring mengenai aspartam ini cukup menggegerkan. Grafik kasus kanker payudara menunjukkan peningkatan yang selaras dengan peningkatan penggunaan aspartam dalam produk makanan jadi, suatu fakta yang lagi-lagi menambah alasan mengapa aspartam harus dicurigai (http://www.chemistry.org).

Selain aspartam, beberapa senyawa pemkanis buatan yang lain juga masih dicurigai bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: